SUHRAWARDI AL-MAKTUL

PEMIKIRAN SUHRAWARDI AL-MAKTUL

Aziz Nurson

IAIN WALISONGO SEMARANG

  1. I.        PENDAHULUAN

Kita mungkin banyak yang kurang mengenal atau mengetahui tokoh-tokoh filsafat setelah ibnu Rusyd. Seolah filsafat setelah masa tersebut telah mati. Seolah tak ada sesuatu yang tampak menonjol. Dan ternyata apabila kita semakin mendalami, ternyata Islam masih menyimpan banyak tokoh dengan pemikiran-pemikiran yang luar biasa.dan sayangnya kita sebagai umat muslim sendiri kurang mengetahui akan hal tersebut.  Dan kali ini kita akan mebahas tentang salah seorang tokoh muslim dengan pemikiran-pemikirannya.

  1. II.      RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana Biografi dari Suhrawardi al-Maktul?
    2. Bagaimana keadaan sosial dan latar belakang pemikiran Suwardi?
    3. Bagaimana pemikiran-pemikiran yang dimiliki oleh Suwardi?
  1. III.    PEMBAHASAN
    1. Biografi

Nama lengkap Suhrawardi ialah Abu al-Futuh Yahya bin Habasy bin Amirak as-Suhrawardi al-Kurdi, lahir pada tahun 549 H/1153 M., di Suhrawad, sebuah kampung di kawasan Jibal, Iran Barat Laut dekat Zanjal.Ia memiliki sejumlah gelar: Syaikh al-Isyraq; Master of Illuminasionist; al-Hakim; asy-Syahid; The Martir; dan Al-Maktul.[1]  Gelar Al-Maktul ini didapatkan berkaitan dengan kematiannya. Ia dihukum gantung di Allepo pada 579/1183. [2] Selain itu, gelar ini pulalah yang membedakan dirinya dengan dua tokoh tasawuf yang memiliki nama sama yaitu Abd Al-Qohir Abu Najid As-Suhrawardi yang merupakan murid dari Ahmad Gozali, dan yang kedua adalah Abu Hafz Umar Sihab Ad Din As-Suhrawardi Al-Baghdadi.

Salah satu kegemaran yang sering dilakukan oleh para pemikir adalah berkelana atau juga bisa disebut juga dengan bepergian. Dengan bepergian itulah akan diperoleh pengalaman-pengalaman yang nanytinya akan berpengaruh terhadap dengan kebijaksanaan pada diri manusia. Bahkan sering para filusuf atau pemikir tidak peduli bila kehilangan jati diri dalam artian kehilangan status kewarganegaraan demi memperoleh ilmu atau pengetahuan yang akan di dapat. Demikian pula dengan Suhrawardi.

Wilayah pertama yang dikunjungi Suhrawardi adalah Maragha, di kawasan Azerbaizan. Di tempat inilah ia belajar hukum.[3] setelah itu ia meneruskan perjalanan ke Ishtihan, Istambul, Iran Tengah dimana ia belajar Logika kepada Zhahir ad-Din al-Qari.ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Anatolia Tenggara. Ia disambut dengan hangat oleh sejumlah Bani Saljuk Romawi yang juga dikenal sudah terbiasa dengan para cendekiawan.

Setelah pendidikan formalnya ia melanjutkan pengembaraannya menuju Persia. Disini ia mendapat pengaruh sufisme. Berbagai ajaran doktrin tasawuf ia pelajari. Bukan hanya itu, ia juga mengamalkannya. Dengan latar belakang seperti itu maka ia adalah seorang sufi yang berfalsafah.

Ia kemudian mengakhiri perjalannya di Syiria. Ia menuju kota Apello. Disinilah ia dekat dengan putra Salahuddin Al Ayyubi yaitu Malik Azh-Zahrih yang tentunya berada di kalangan penguasa saat itu. Malik yang juga gemar akan ilmu pengetahuan mengundang Suhrawardi dalam diskusi rutinan dengan para cendekiawan. Namun dalam perkembangannya, kehadiran Suhrawardi beserta pemikirannya tidak disukai oleh para Mufaqqih.

Dengan berbagai tipu daya, mereka mencoba melakukan tindak pemfitnahan terhdap Suhrawardi. Dengan dalih membahayakan umat, mereka mengajukan gugatan hukuman mati terhadap Suhrawardi, namun tidak dikabulkan oleh Malik. Maka merekapun mengajukan langsung kepada sultan Salahuddin al-Ayyubi. Dalam perkembangannya ini bukan hanya merupakan politik kekuasaan namun juga aliran-aliran.

Tak mau mengambil resiko terjadinya perpecahan umat, maka Salahuddin memenjarakan Suhrawardi. Samapailah pada saat kematian Suhrawardi yang juga tidak jelas. Akan tetapi menurut Hossein Ziai menulis bahwa Suhrawardi mati akibat dihukum gantung di Allepo pada 587/1191. Ini berarti ia hidup selama 38 tahun Qomariyah dan 36 tahun  Syamsiyah.[4]

  1. Keadaan Sosial

Peradaban Islam pada masa Suhrawardi merupakan masa yang dinilai matang dari segi ilmu pengetahuan. Perpindahan penguasa yang semula dari Arab menjadi non-Arab menjadi satu hal peruabahan yang pasti. Pada masa bani Abbasiyah, ilmu pengetahuan lebih diperhatikan daripada masa dinasty Umayyah. Padahal apabila kita berfikir, maka tentulah kita tahu bahwa ilmu pengethuan merupakan tonggak peradaban.


[1] Dr. Amroni Drajat, M.A., Suhrawardi: Kritik Falsafah Paripatetik, cet. I., (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2005), h.1.

[2] Hossein Ziai, Suhrawardi & Filsatat Illuminasi : Pencerahan Ilmu Pengetahuan, cet. I., (Georgia: Brown University, 1998), h.20.

[3] Op.cit., h.31

[4] Hossein Ziai, op.cit.

selangkapnya  di:

PEMIKIAN SUHRAWARDI AL-MAKTUL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s